Thalib, Mahasiswa dan Ilmu

Peristiwa tewasnya salahsatu mahasiswa kembali terulang dan sekaligus mencoreng wajah pendidikan para “MAHA”siswa .Sebagian orang memahami kata “Maha”disini diartikan sebagai sesuatu yang lebih tinggi tingkatannya atau tidak merasa cukup. Jadi arti mahasiswa jika dilihat menurut arti katanya sendiri yaitu, pelajar atau siswa yang tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang biasa. Tidak sama dengan anak SMA,SMP,SD apalagi Raudhatul Athfal (TK).

Sejauh yg saya ketahui, penggunaan kata pelajar dalam Islam, lebih banyak menggunakan kata ‘Thalib’ atau ‘Muta’allim’,hanya biasanya setelah itu ada qaid (pengikat) yang menjelaskan dilevel mana dia berada misalnya Thalib Ibtida’i, Tsanawi, atau ‘Ali, atau jika dikaitkan dengan lembaga tinggi, maka sering disebut dengan Thalib Jami’i. Penggunaan kata ini, dipandang sangat ideal, tepat, dan menginspirasi pelakunya untuk menempatkan dan memposisikan dirinya pada status dia sebagai “Pencari”.

Dari kata itu tertimbun berbagai makna dan pesan psikologis penting. Makna dan pesan dari istilah itu diantaranya; Keikhlasan, rasa keingintahuan yang tinggi, tidak mudah menyerah, berani menggunakan berbagai instrument agar proses pencarian lebih cepat dan mudah didapat.Kesemua makna itu terkandung utuh dalam istilah “Thalib” . Sementara kata yang popular kita dengar adalah “ pelajar”, ataupun “siswa”. Selain istilah ‘Thalib’ , istilah lain yang juga cukup popular dalam bahasa kita adalah ‘Murid’ . Jika itu mau difahami secara dalam-walaupun dalam tradisi bahasa Arab kata ini jarang disematkan pada seorang pelajar disetiap levelnya, tetapi istilah ini lebih banyak kita kenal dalam tradisi sufi – sekalipun demikian, istilah ini masih bisa diserap darinya pesan yang dalam yang tidak jauh dalam dengan kata “Thalib”.

Murid berarti orang yang menginginkan sesuatu yang bukan hal yang mustahil untuk didapatkan lalu kemudian dia bergerak mencari,karena jika tidak bergerak maka itu dinamakan mutamanni (orang yang berangan-angan kosong).

Kembali memahami kata “Mahasiswa” terkesan begitu prestisius dan berbau arogan disamping keterkaitannya dengan bahasa sangsakerta begitu kuat. Seyogyanya, kata “Maha” jika ditarik pesan psikologis darinya ialah bahwa seseorang yang disebut mahasiswa seharusnya memiliki cara berfikir, cara bertindak, cara mengadopsi ide dan sistem secara mandiri, aktif dan tak mengenal lintas batas. Ini yang seharusnya difahami dari kata itu.

Namun realitas dilapangan sangat berbeda. Beberapa kasus dari prilaku sebagian mahasiswa kita –satu diantaranya kasus tewasnya mahasiswa baru ditangan kakak kelasnya – mencerminkan ketidakseimbangan antara makna dan realita. Dari sini sekali lagi Islam menampakan kearifan dan ketinggian konsepnya termasuk dalam penggunaan istilah yang digunakan. Lihat dan renungkan beberapa istilah dalam tradisi keagamaan dan keilmuan dalam Islam, semuanya lahir tanpa meninggalkan ruang kosong dalam memberi pesan penting pada pelakunya.

Dalam istilah Islam, kata ’syahadat’ misalnya, sudah memiliki makna khusus, kata itu bukan hanya khas tetapi unik, bahkan tidak bisa digantikan dengan istilah ’pernyataan’, ’kesaksian’, atau ’testimoni’. Karena itu, orang yang masuk agama Islam, diminta membaca dua kalimah ’syahadat’; bukan diminta membaca dua kalimat ’testimoni’.

Melihat apa yang dikatakan oleh Prof. Naquib al-Attas, bahwa istilah-istilah tersebut sebagai ’Islamic vocabulary’ (Kamus Islam). Sekalipun bukanlah seluruh daftar kata dalam kamus bahasa Arab, tetapi dalam bahasa Arab terdapat beberapa istilah yang merupakan kata-kata tertentu yang memiliki pola makna saling berkaitan dan membentuk satu ’pandangan hidup’ (worldview) yang khas Al-Quran. (Lebih jauh, lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, (Kuala Lumpur; ISTAC, 1999). Unik memang, salahsatu contoh lain adalah istilah ‘mulia’, dimana istilah mulia itu lebih identik dengan kedudukan seseorang ditengah masyarakatnya dari sisi harta dan keturunan, maka Islam menggunakan kata “Karam” yang menempatkan ketakwaan seseorang menjadi standar kemuliaan yang seharusnya dijadikan standar ukuran.

Dalam hal ini, saya hanya tertarik pada pembahasan bahwa istilah yang digunakan, seyogyanya memberikan inspirasi dan pesan moral pada pelakunya. Kata ‘Maha’ terkesan arogan karena seolah seseorang telah menjadi segalanya, dan tahu segalanya, sementara kata ‘Thalib’ atau ‘Murid’ terasa dipenuhi nuansa kerendahan dan optimalisasi ikhtiar untuk mencari sesuatu yang diinginkan. Kata ‘Maha’ tercium darinya nuansa kesan ‘cukup’ dan sudah ‘penuh’ sementara ‘Thalib’ atau ‘Murid’ tertanam didalamnya kesan sebuah proses pencarian tiada henti. Kedua kata ini terasa indah didengar dan sarat inspirasi. Maha suci Allah, yang telah memilih Bahasa Arab menjadi bahasa Al-Qur’an, bahasa yang telah mengantarkan para penggembala ibil dan ghonam (unta dan kambing) berubah menjadi penghulu peradaban sepanjang zaman. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kalian berfikir”. (Q.S. Yusuf :1) . Tanpa mengesampingkan kecintaan pada produk budaya lokal yang terpakai secara alami, hanya saja tradisi yang tumbuh dari rahim Al-Quran adalah sesuatu yang seharusnya lebih kita cintai. Lihat dan renungkan bagaimana istilah-istilah yang berada diseputar kata pengetahuan ‘al-‘Ilmi’ , ‘Thalib al-Ilmi’, ‘al-Ma’luumat’ dalam tradisi Islam telah mampu tampil dalam wujud nyata kehidupan islami masa lalu. Sebuah statemen dari para sejarawan sulit terbantahkan bahwa:

أن الدين الإسلامي قد أفرد مكانة للعلم والمتعلم, وأعطى العالم منزلة لا تضاهيها منزلة إلا الأنبياء الذين ورثوا علمهم للعلماء, ولأن العلم كان هدفاً يسعى إليه ويرتحل في طلبه, فقد أمدتنا مصادر هذا العصر بأخبار العديد من العلماء الذين ارتحلوا من بلد إلى آخر طلباً للعلم والمعرفة

“Sesungguhnya agama Islam, telah memberikan kedudukan penting terhadap ilmu dan para pembelajarnya (baca;para pencarinya), Islam telah memberikan kedudukan terhormat pada seseorang yang berilmu yang mana kedudukan para pencari ilmu itu tidak bisa disejajarkan kecuali dengan para utusan Allah (Anbiya) yang mana mereka (para Anbiya) telah mewariskan ilmu (risalah) yang mereka bawa kepada para ahli ilmu (Ulama). Selain itu, ilmu (dalam Islam) telah menjadi tujuan yang dengan landasan dan tujuan itu, perjalanan dan rihlah panjang harus ditempuh demi mendapatkan apa yang sedang dicari (ilmu). Berbagai sumber konkrit telah memaparkan kepada kita secara jelas, tentang berita (informasi)sejumlah ilmuwan( para pencari ilmu ) yang telah menempuh perjalanan panjang dari satu negera ke negara lain untuk mencari mutiara ilmu dan makrifat”.
Para ahli sejarah menambahkan lagi,

وقد تنوعت وتعددت طرق التدريس في العصر المملوكي, وسادت المرحلة الأولى طرق التلقين, والحفظ والاستظهار, والقراءة والكتابة, أما في المرحلة العالية فقد انتشرت فيها طرائق المحاضرة والسماع والإملاء والقراءة والعرض والمناظرة والحوار والمراسلة والرحلة

“Begitu banyak perangkat dan metode pengajaran yang berkembang dizaman dinasti Mamluki (Abbasiah), dimana pada level pertama para pencari ilmu dibentuk melalui cara talqin, hafalan, dan metode paparan hafalan, disamping menggiatkan budaya membaca dan menulis. Pada level ‘Aliyah (tinggi) berkembang cara metode ceramah, mendengar dan imla’ membaca dan memaparkan hasil telaah, tak lupa metode diskusi dan dialog serta saling bertukar hasil tulisan dan melakukan rihlah (penelitian lapangan )”.

Ini yang seharusnya berkembang dalam tradisi keilmuan para mahasiswa kita, bukan dengan cara-cara yang sangat identik dengan gaya feodal, barbar,arogan, hedonise dan penindasan. Kenyaataan yang kita temukan sekali lagi sangat berbeda, dimana lebih jauh dari itu, ilmu didapat demi selembar ijazah, peluang kerja dan status sosial ditengah masyarakat yang tengah ‘sakit’. Bukan dicari demi menambah kesadaran akan luasnya ilmu Tuhan yang dari situ lahir buah keindahan, keberkahan dan kemanfaatan ilmu yaitu rasa takut, ketundukan dan kesiapan diri mengelola aset yang diberikan Tuhan ini (baca; alam semesta)diatas penunjukNya.

Suatu hari, saya pernah berkunjung kesalah seorang ulama disebuah pesantren yang berada dipinggiran kota Surabaya, kakinya sudah tidak bisa digerakan lagi untuk berjalan, tetapi dengan ilmunya dia tidak berhenti dari pagi hingga malam menerima kunjungan para Thullab ilmi (pencari ilmu) yang mengajukan hafalan Al-Qur’an dihadapannya . Kalimat yang menarik yang terus terpatri dalam benak saya adalah: “Jika kamu membeli meja, jangan pernah berfikir untuk memiliki kolong meja,karena itu sudah pasti didapat” . Kata itu berupa kiasan sederhana saja, tetapi pesan terdalam yang ingin beliau sampaikan adalah, Jika akhirat yang menjadi tujuan, maka dunia akan mengikuti dari belakang. Inspirasi ini, sejalan dengan apa yang disampaikan manusia mulia Rasulullah saw: “Barangsiapa ingin dunia,maka dengan ilmu, baransiapa menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya makan harus dengan ilmu” . Wallohu ‘Alam.

Ust. Ali Ridwan Anshory, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *