Sejarah Pondok Pesantren Baitul Hidayah

Sistem pendidikan pesantren di Indonesia saat ini diakui sebagai salah satu sistem pendidikan alternatif di samping pendidikan nasional. Pesantren hadir sebagai salah satu agen perubahan dan pembangunan masyarakat. Pesantren dengan berbagai latar belakang dan coraknya, baik dengan sistem tradisional maupun modern atau perpaduan antara tradisional dan modern diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, apalagi di era globalisasi saat ini, khususnya di Indonesia.

Dalam rangka terwujudnya hal tersebut maka kami Yayasan Baitul Hidayah Nurul Khalish mendirikan pondok pesantren dengan nama Pondok Pesantren Baitul Hidayah,  sebagai bentuk manifestasi untuk menjawab tantangan zaman. Pondok pesantren ini hadir sebagai bentuk bakti, wujud cinta dan taqwa kepada Allah dari pendirinya yaitu Bapak Martono dan Ibu Upi (Agnes Diah Sri Suntari). Keluarga yang berawal dari non-muslim yang kemudian atas hidayah-Nya memeluk agama Islam. Ibu Upi memeluk Islam di bulan Oktober 1999, diikuti oleh Bapak Martono pada 17 Agustus 2000 dan kemudian diikuti oleh kedua anaknya Dimas Adhi Prasetyo dan Angelia Diah Rani Andriani (Icha) seminggu kemudian pada bulan Agustus 2000.

Keinginan untuk mendirikan pesantren bermula sekitar awal tahun 2002, dengan cikal bakalnya adalah pendirian Taman Kanak-kanak (TK) Istiqomah di Desa Sinom, Jatihandap, Bandung (saat ini namanya TK Nurul Khalish). Niat yang kuat tersebut akhirnya mulai direalisasikan pada akhir tahun 2008 dengan mendirikan Yayasan Baitul Hidayah Nurul Khalish dengan akta notaris Nomor 4/2/2009 yang dikeluarkan oleh Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Tedy Triadi, SH.

Pondok Pesantren Baitul Hidayah ini didirikan di atas tanah wakaf seluas 1,5 Ha dan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Nomor akta wakaf 05/W.2/2009. Insya Allah ke depan akan ada perluasan wakaf bagi pengembangan Pondok Pesantren. Tanah wakaf ini berada di daerah Bukit Panyandaan, Mandala Mekar, Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Pondok pesantren yang didirikan ini adalah pondok pesantren dengan keunggulan Ihya Al-Qur’an (termasuk didalamnya Tahfidz Al-Qur’an) dan pola pengasuhan 24 jam (berkiblat pada pola pengasuhan Pondok Modern Darussalam Gontor), ditambah dengan cita-cita model eko-pesantren dan ramah lingkungan.

Untuk tahap awal telah dilaksanakan acara Peletakan Batu Pertama yang dihadiri oleh masyarakat dan aparat setempat di Bukit Panyandaan, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Bandung pada hari Jum’at, 20 Februari 2009/24 Rabiul Awwal 1430 H, dan sejak Sabtu, 10 Juli 2010/26 Rajab 1431 H, aktivitas kegiatan di Pondok Pesantren Baitul Hidayah sudah dimulai. Dengan dukungan penopang tanah keluarga Bapak Martono seluas kurang lebih enam hektar, sudah dilakukan swadaya penghijauan dengan menanam pohon albasiya (sengon) sebanyak 8000 pohon, kopi sebanyak 6000 pohon, jati kurang lebih 3000, beberapa pohon robosi dan suren, juga beberapa pohon buah, diantaranya; jeruk, durian, alpukat dan nangka.

Pendirian pondok pesantren ini selain sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, adalah juga untuk membentengi aqidah umat dari kemusyrikan, selain itu untuk kepentingan umat dengan membantu orang yang kurang mampu (yatim, piatu, yatim piatu dan dhu’afa) dengan memadukan semua potensi yang ada. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Al-Baqarah: 218)

Secara umum program pondok pesantren ini adalah perpaduan antara program pendidikan dan pengajaran. Program pendidikan dengan pola pengasuhan 24 jam dan program pengajaran Madrasah Tarbiyah Al-Islamiyah (MTI). MTI dengan terdiri dari program pendidikan di kelas dan program Ihya Al-Qur’an yang merupakan program Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an Berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya”. (HR. Ibnu Majah). Pola pendidikan dilakukan dengan  pengasuhan 24 jam di pondok pesantren (pola pengasuhan berkiblat pada Pondok Modern Darussalam Gontor). Santri juga diberikan program pendidikan Bahasa Arab dan Inggris, agama dan umum. Selain pelajaran akademik, santri yang ikut program ini juga dibekali life skill keterampilan ilmu pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, teknologi ramah lingkungan dan ilmu kewirausahaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan orientasi pemberdayaan mereka kelak di kemudian hari. Program pesantren ini di kemudian hari akan memadukan pola pesantren tradisional dan modern dengan corak terpadu antara sistem sekolah/madrasah dan sistem pesantren (asrama).

Program pendidikan di pondok pesantren ini merupakan upaya untuk memberikan kontribusi kepada agama, bangsa dan negara serta masyarakat, dengan karakter kemandirian, independensi yang berkembang dan perangkat pendidikan yang baik serta sumber daya manusia yang dapat dihandalkan, diharapkan akan menjadi baik dalam sistem pengelolaan maupun pengembangannya.