Sejarah itu Al-Qur’an

“Sejarah adalah konsep Al-Quran” ujar seorang ustadz lulusan Universitas Islam Madinah itu. Pada, Ahad (4/3) Pondok Pesantren Baitul Hidayah kedatangan tamu spesial. Yang pada umumnya hanya dapat melihat dari layar kaca saja, kini para santri dan tamu undangan dapat bertatap muka dengan ustadz satu ini. Dialah ustadz Budi Ashari, Lc.

Sehingga para tamu undangan memenuhi Masjid Jami’ Baitul Hidayah. Kajian yang membahas tentang “sejarah” ini mendapat respons baik dari masyarakat setempat, bahkan ada juga datang jauh-jauh yang sengaja untuk menghadiri kajian ini.

Ketika disela-sela kesibukan beliau, ustadz yang mengisi acara di salah satu stasiun televisi ini menyempatkan diri untuk mengisi agenda pada rangkaian acara Milad sewindu (8 tahun) Pondok Pesantren Baitul Hidayah, dikutip dari baitulhidayah.org “ Sejarah Nabi Muhammad S.A.W adalah praktek dari Al-Quran tersendiri” saat menjawab wartawan Baitul Hidayah. Dan beliau juga menyatakan bahwa setinggi apapun ilmunya yang kita tuntut apabila tanpa Al-Quran tak akan pernah menjadi Peradaban Islami.

Sudah menjadi kewajiban kita menuntut ilmu mengetahui sejarah asal muasal agama dan bangsa kita. Tapi, apabila tanpa ditopang dengan Al-Quran hanya akan menjadi ilmu yang sia-sia, seperti itu, juga tentang kepesantrenan.

Beliau pun mengingatkan tentang ilmu sejarah atau sirah nabawiyyah yang memotivasi beliau dalam belajar, karena dengan sirah nabawiyyah adalah contoh real dari segala aspek yang ada di dalam Al-Quran. Mulai dari bersosisalisasi, hukum pidana, bahkan hal-hal kecil sekalipun seperti pekerjaan-pekerjaan yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya ataupun yang dibenci. Karena “belajar dari contoh lebih mudah dari belajar dengan teori saja” ujar beliau.

Oleh karena itu beliau mengingatkan kita tentang perihal menuntut ilmu yang semakin lama semakin memburuk dari generasi ke generasi. Tapi, pada zaman sekarang segala fasilitas dapat memanjakan kita dengan segala ability nya, bahkan sampai tentang ilmu pun sudah sangat mudah diakses atau hanya dengan meng-klik saja, ilmu datang dengan sendirinya, padahal hakikatnya ilmu itu dicari atau didatangi bukan datang dengan sendirinya العلم يؤتي ولا يأتي”

Dan beliau pun mengingatkan kita tentang hal ini, “Jangan pilih pesantren dengan fasilitas tinggi”. Mengapa? Karena pada hakikatnya menuntut ilmu itu penuh dengan kesederhanaan seperti santri yang dididik untuk selalu hidup sederhana, dan hal ini juga yang membedakan kita dengan lembaga pendidikan yang lainnya.

Tapi, dewasa ini beberapa masyarakat masih salah kaprah mengenai pesantren. Dan Pada akhir acara Ust. Budi-pun meluruskan hal ini “pesantren bukan tempat membetulkan orang-orang nakal tapi pesantren adalah tempat untuk belajar bagaimana cara hidup islami”(4/3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.