Pesantren Dalam Tinjauan Sirah Nabawiyah – Bag. 2

Resume Bagian II Kajian Sirah Dengan Tema: Pesantren Dalam Tinjauan Sirah Nabawiyah
Oleh : Ust. Budi Ashari, Lc.
Di Pondok Pesantren Baitul Hidayah
Resume: Ust. Ali Ridwan Anshory, Lc

Bismillahirrahmanirrahim

10. Apa yang disebut dengan Sekolah Islam, atau pesantren adalah lembaga pendidikan yang Al-Qur’an harus menjadi panduan geraknya, nafas dalam kehidupannya.
Pelajaran penting: Jika tidak berlandaskan panduan AL- Qur’an maka sekalipun anak-anak kita belajar di Jerman, atau tempat manapun maka yang akan muncul bukanlah peradaban Islam.

11. Belajar dari sejarah awal turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW, tampak bahwa semuanya berawal dari kegelisahan.
Pelajaran penting:
Pertama: Bahwa jika kita berada pada kondisi yang rusak, dan kita masih merasa aman-aman saja, maka itu pertanda bahwa kita sedang bermasalah. Tolak ukurnya gampang, disaat kita menonton tayangan yang merusak, tanyakan bagaimana keadaan hati kita saat itu.
Kedua: Kelahiran pesantren sejak awal berangkat dari kegelisahan orang-orang sholeh melihat kondisi di sekitarnya yang rusak. Begitulah sejarah awal ketika Nabi SAW pulang dan pergi ke gua Hira hampir selama 3 kali Ramadhan (kurang lebih 3 tahun lamanya).

12. Berbicara tentang kondisi kejahiliyahan masa awal perjalanan Rasulullah SAW, dan makna jahiliyah yang digunakan dan terulang dalam Al-Qur’an, maka akan menunjuk pada 4 makna utama :
Pertama: ظن الجاهلية (Keyaqinan jahiliyah)
Kedua:حكم الجاهلية (Hukum jahiliyah)
Ketiga: حمية الجاهلية (Fanatisme jahiliyah)
Keempat: تبرج الجاهلية (Penampilan jahiliyah).

13. Dalam kondisi seperti itulah perintah membaca اقرأ adalah pesan pertama yang disampaikan Al-Qur’an.
Pelajaran penting:
Pertama: Membaca adalah kunci masuk kepada sebuah peradaban.
Kedua: Jangan pernah berharap peradaban Islam akan bangkit jika budaya membaca belum tumbuh.
Ketiga: Musuh membaca adalah hiburan yang lebih spesifik lagi adalah nyanyian. Faktanya membaca adalah aktifitas yang membutuhkan konsentrasi, sementara menyanyi dilakukan dengan sepenuh kelalaian.

14. Urgensi sebuah usaha pengkaderan:
Pada awal perjalanan dakwah Rasulullah SAW, orang pertama yang beliau rekrut adalah Abu Bakar Ash- Shiddiq rodhiyallohu anhu , yang disebutkan sebagai sosok
كان رجلا محببا ونسابا
Seorang laki-laki yang dicintai dan memahami mata rantai silsilah keturunan Arab. Bukan hanya itu, beliau adalah konsultan perdagangan bagi masyarakat Mekah saat itu. Dipelataran rumah beliaulah terjadi proses pengkaderan dan transformasi pengetahuan tentang perdagangan.
Pelajaran penting:
Santri yang saat mereka belajar mungkin diremehkan, tapi tidak boleh berkecil hati karena merekalah calon ulama dan pemimpin dunia.

15. Pengkaderan kedua terjadi dirumah Arqom bin Arqom rodhiyallahu ‘anhu. Siapakah Arqom ini?
Pertama: Dia seorang pemuda yang tinggal disebuah rumah yang berada di lereng bukit Shafa, inilah yang membuat tempat itu tertutup dari pandangan Quraisy. Dimana posisi rumah itu, akan terhalang dengan Hijir Ismail dan Ka’bah sehingga tidak tampak dari Darun Nadwah tempat berkumpulnya para pembesar Quraisy.
Kedua: Arqom ini ternyata adalah keturunan Bani Makhzum yaitu qabilah Abu Jahal yang dengan itu akan sulit untuk dilacak status keislamannya.
Ketiga: Para shahabat berusaha menyembunyikan identitas keislaman Arqom dan sengaja ditutupi sebagai sebuah strategi.
Pelajaran penting:
Pertama: Bahwa pertahanan terbaik adalah dikandang musuh.
Kedua: Memilih tempat pendidikan adalah bagian dari strategi.
Ketiga: Amanah risalah ini tidak bisa dipikul sendiri, dia memerlukan kerja kolektif yang sinergis.

16. Ingat bahwa pesantren bukanlah sekolah, tetapi pesantren adalah kehidupan, didalamnya banyak drama kehidupan dengan karakter orang yang berbeda-beda. Maka bersabarlah!

17. Ketika Nabi SAW hijrah ke Yatsrib maka bangunan yang pertama dibangun Rasulullah SAW adalah mesjid sebelum beliau membangun rumahnya sendiri. Justru sebelum mesjid terbangun, beliau ikut numpang di rumah seorang sahabat Abu Ayyub Al-Anshory rodhiyallohu ‘anhu. Dari mesjid itulah segala pergerakan dimulai.

18. Pola bangunan mesjid yang Nabi SAW bangun sangat unik, dimana sebelum Qiblat berpindah, bagian depan mesjid ditutupi pelepah kurma, dan bagian tengah dibiarkan terbuka. Dan ketika Qiblat berpindah, maka bagian yang sebelumnya merupakan bagian belakang kini menjadi bagian depan lalu ditutupi kembali dengan pelepah kurma, sementara bagian tengah tetap dibiarkan terbuka. Pola bangunan ini telah ditiru hingga masa keemasan kaum muslimin selama berabad-abad lamanya.
Rasulullah SAW melakukan itu bukan secara kebetulan, tetapi berdasarkan petunjuk wahyu. Dari tempat yang sederhana itulah lahir para ulama yang kelak memimpin dunia seperti: Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu periwayat hadist terbanyak, yang pernah pingsan karena kelaparan. Ada Bilal Bin Robah rodhiyallohu’anhu_ budak Afrika berkulit hitam yang kelak pada Fathu Mekah, Bilal diberi kemuliaan naik keatas Kabah bahkan dengan Usamah Bin Zaid sipemuda yang juga putra dari Zaid bin Haritsah rodhiyallohu ‘anhuma yang diizinkan masuk kedalam Ka’bah untuk shalat didalamnya. Dari mesjid tumbuh tradisi ilmu yang dilandasi kesederhanaan, bahkan apa yang mereka makan adalah kurma yang digantungkan di 3 pintu mesjid dari siapapun yang ingin bersedekah bagi para Ahlu Suffah saat itu, bahkan sebagian sahabat bahu membahu membawa sisa makanannya ke mesjid untuk membantu para Ahlu Suffah.
Pelajaran penting:
Pertama: Jangan kecil hati dengan keadaan hari ini, karena kita tidak pernah tahu taqdir kita dikemudian hari.
Kedua: Penuntut ilmu harus hidup dalam kesederhanaan jangan merasa kaya karena yang kaya adalah orangtua kita. Jika penuntut ilmu merasa kaya, itulah yang salah.
Ketiga: Jangan banyak mengeluh dengan keadaan di pesantren, tidak ada air, kehabisan makanan, WC mampet dll, adalah hal yang wajar untuk menerpa diri menjadi jiwa yang kuat karena Pesantren adalah kehidupan yang nyata dan faktual

19. Mesjid Rasulullah SAW menjadi pola pendidikan terbaik yang kelak akan melahirkan ulama dan orang besar.
Lihat buku
الدارس في تاريخ المدارس
Buku yang menjelaskan sejarah madrasah di negeri Syam.

20. Sentral pendidikan itu ada pada guru. Guru itulah kurikulum sesungguhnya, karena sehebat apapun kurikulum yang dimiliki, maka tidak akan berpengaruh jika guru-gurunya bermasalah.

21. Pesantren harus mampu menanamkan ibadah pada santri sampai pada level “cinta”.

22. Guru harus menjadi suri tauladan yang baik, ingat, bahwa kita mungkin tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk, namun tanpa disadari kita menanamkan keburukan ketika kita tidak menjadi suri tauladan yang baik.

Wallaho ‘alam Bishowaab
Panyandaan, 17 Jumaada Tsaniyah 1439 H.

PS: Resume Bagian I ada di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *