Pendidikan Pesantren Dalam Kajian Sirah Nabawiyah

Resume Kajian Sirah Dengan Tema :
Pendidikan Pesantren Dalam Kajian Sirah Nabawiyah
Oleh: Ust. Budi Ashari,Lc.
Resume: Ust. Ali Ridwan Anshory, Lc

1. Pesantren akan kehilangan makna aslinya ketika tidak adanya nilai pengabdian.

2. Ada yang menarik dalam ungkapan Rasulullah Saw :

خياركم في الجاهلية , خياركم في الإسلام إذا فقهوا
” Orang pilihan diantara kalian dizaman jahiliyah adalah orang pilihan dimasa Islam, apabila dia orang yang memahami agama.

Kalimatفقه adalah kalimat tsulatsiyat yang ‘ain fi’ilnya bisa dibaca 3 bentuk ; faqiha, faqah,dan faquha . Kalimat ketiga yang dibaca faquha menarik karena mengandung arti pemahaman seseorang yang bukan sekedar faham, tetapi sudah mendarah daging dalam jiwanya.

Pelajaran penting: Belajar dan memahami sesuatu harus sampai pada pemahaman yang mendarah daging.

3. Ada renungan penting dari balik ayat berikut ini :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”.
(Q.S.At-Taubah:122).
Kalimat :
إذا رجعوا اليهم ..
Menyisakan pertanyaan siapa yang pulang? Para mujahidkah? Atau Tho’fah yang menuntut ilmu? Ataukah kedua-duanya?
Ternyata para ahli tafsir memberikan peluang pada kedua kelompok tersebut. Mengapa? Karena berperang bisa jadi terjadi tanpa harus keluar (seperti saat terjadi serangan musuh), pun sama bahwa menuntut ilmu juga terkadang tidak harus keluar, maka ini berarti bahwa jika para mujahid pergi berperang maka penuntut ilmu bisa memberi peringatan seraya menunggu sepulang mereka berjihad, begitu juga jika penuntut ilmu yang keluar, maka sepulang mereka kepada kaumnya, mereka berkewajiban memberi peringatan kepada kaumnya.
Pelajaran pentingnya:
Pertama: Bahwa ilmu bisa dipelajari ditempat dia tinggal.
Kedua: Ilmu bisa dipelajari dengan melakukan perjalanan panjang.
Namun perlu dicatat: Bahwa Sunnatullah yang berlaku adalah bahwa ilmu itu dicari dengan melakukan rihlah ilmiyah, dengan menempuh perjalanan panjang.

إنما العلم يؤتى إليه ولا يأتي
“Sesungguhnya ilmu itu didatangi dan ia tidak datang sendirinya”.

4. Tradisi rihlah ilmu bisa sebenarnya bisa dilacak sejak zaman nabi Musa As, ketika melakukan perjalanan panjang mencari seorang guru.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” (Q.S.Al-Kahfi:60).
Pelajaran penting:
Bagaimana Musa berusaha mencari guru sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, dan belum tahu keberadaannya kecuali melalui isyarat pertemuan 2 lautan, dan perjalanan itu akan terus dia lakukan walaupun harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, begitulah seorang penuntut ilmu, dia harus memiliki kesabaran yang kuat dalam belajar.
Kedua: Para kiayi dahulu seringkali menentukan pertemuannya dengan muridnya dengan menentukan dan memberi isyarat tertentu, “Temuilah aku dipohon yang cabangnya 10,.misalnya.

5. Amati bagaimana Yusya Bin Nun yang setia menyertai Musa mencari keberadaan Khidir. Ketika Yusya berteman dengan seorang Nabi, iapun menjadi Nabi.
Yusya Bin Nun itulah yang kelak akan membuka kemenangan Bani Israil dari musuh-musuhnya. Yang diutus kepada kaum yang sangat angkuh hingga mereka mengatakan kepada Musa :
” Pergilah kamu dan Tuhanmu kami akan menunggu kemenangan ditempat kami berada”.
Dengan itulah Allah mengazab mereka :

يتيهون في الأرض أربعين سنة ….
Mereka tersesat selama 40 tahun dibumi.
Dari situ ada pesan tentang siklus sebuah generasi, bahwa jika satu generasi sudah tidak bisa diharapkan kembali, maka akan ada generasi baru yang lebih baik, yang akan menggantikan generasi lama .

6. Dari kisah Musa dan Khidir menarik untuk dicermati:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya : “Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”
(Q.S.Al-Kahfi : 66)
Disini ada pelajaran adab:
Pertama: Menghormati ilmu dan ahli ilmu.
Kedua: Musa adalah seorang nabi, namun sebegitu tingginya dia menghormati gurunya. Ternyata adab itu sangat penting.
Pelajaran penting: Jika anda menitipkan anaknya di pesantren atau lembaga pendidikan apapun, maka selama kita tidak bisa menghormati guru anak-anak kita maka dijamin anak kita tidak akan berhasil, lebih baik cabut anak itu dan jangan berharap dia mendapatkan keberkahan ilmu.

7. Lihat syarat yang dibuat Khidir :

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”
(Q.S. Al-Kahfi : 70).
Itulah syarat yang dibuat seorang guru. Syarat seperti itu biasa berlaku dalam tradisi pesantren dimana seorang kiayi membuat syarat tertentu dalam memilih seorang murid dan itu hal yang lumrah terjadi.
Pelajaran penting:
Pertama: Seorang kiayi, ahli ilmu, guru terkadang melihat bukan hanya dengan bashornya tetapi melalui bashirohnya. Atau dalam bahasa lain bahwa dia melihat dengan cahaya Allah.
Kedua:
Lihat bagaimaa ketika Imam Malik berkata kepada Syafii kecil yang akan belajar kepadanya:

إني رأيت في قلبك نورا فلا تطفىء بمعصيتك
” Sesungguhnya aku melihat cahaya dihatimu, maka jangan kamu padamkan dengan kemaksiatanmu!“.

8. Belajar dari surat Al-Kahfi bahwa surat itu turun disaat kondisi sulit, disaat dakwah menghadapi kesulitan, ada yang disiksa, dianiaya.
Pelajaran penting: Belajarlah dari latarbelakang sebuah surat yang turun, hadist maupun kejadian apapun, bahkan mempelajari latarbelakang sebuah karya juga sangat penting.

9. Kondisi sulit yang melatarbelakangi turunnya surat Al- Kahfi memberi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam menuntut ilmu . Itulah senjata terbesar yang kelak akan melahirkan para ulama, pemimpin dunia.
Imam Khatib Al- Baghdadi menulis buku tentang :
رحلة في طلب الحديث
“Perjalanan dalam mencari hadist”.
Belajar dari Imam Sya’bi rahimahullah, dimana beliau adalah seorang tabiin yang ditengah keberadaan para shahabat yang masih banyak yang hidup beliau sudah diizinkan mendapatkan kemuliaan untuk mengajar . Ini menunjukan kedalaman ilmu yang beliau miliki sampai beliau berkata :
” Aku telah menguasai semua disiplin ilmu secara mendalam yang aku pelajari dengan penuh konsentrasi, namun hanya satu ilmu yang saya bisa saya berkonsentrasi untuk menguasainya, yaitu ilmu syair. Namun jika engkau mau, aku bisa bacakan syair – syair itu selama sebulan tanpa ada satu syairpun yg saya ulang!”

Pelajaran penting:
Pertama: Jika yang tidak beliau kuasai saja seperti itu, bagaimana dengan apa yang telah beliau kuasai, itulah berkah kesabaran
Kedua: Ketika beliau ditanya tentang kedalaman ilmu yang Imam Syabi miliki beliau mengutarakan rahasinya :
بنفي الاعتماى,
Tidak banyak bersandar kepada kebesaran orang lain.
والسير في البلاد
Dan banyak melakukan perjalanan panjang
وبكور كبكور الغراب
Selalu semangat menjemput ilmu dan kebaikan diawal waktu, ( cekatan, semangat dan antusias)
وصبر كصبر الجماد
Sabar seperti benda mati. Sama seperti kursi yang tahan diduduki siapapun .

Berlanjut insyaAllah……..

Lanjutan Bag. 2 ada di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.