Panyandaan Olympiad 2016

Bergerak dan menggerakkan merupakan salah satu motto yang ada di pondok pesantren. Maka pada tahun ini santri Baitul Hidayah menghadirkan sebuah acara baru yang berjalan di bawah pengawasan OSPBA (Organisasi Santri Pesantren Bait Al-hidayah). Dengan kegiatan bertemakan olahraga. Diketuai oleh bagian olah raga langsung yaitu Rahmat Fizran santri kelas 5. Panyandaan Olympiad sukses menuai keberhasilan.

Pada olimpiade kali ini seluruh santri yang berjumlah 160 terbagi dalam tim dengan nama-nama negara untuk memperebutkan posisi puncak dan gelar prestisius. Ada berbagai macam cabang olah raga yang dilombakan. Diantaranya: olah raga yang paling populer di dunia yaitu sepak bola, tak ketinggalan juga futsal, dan takraw yang mengandalkan kemampuan dari kedua kaki. Ada juga bola volley, bola basket, tenis meja dan sebagai pelengkap yaitu olah raga otak, catur.

Pembukaan pun tidak kalah meriah, sebagai pembeda dari tahun-tahun seelummnya, yang biasanya dengan gunting pita atau mengucap basmalah saja, maka tahun ini, dengan dipelopori oleh Slamet Dwi Budianto, siswa kelas 5 KMI membuat pembukaan diawali dengan tembakan senapan angin yang diiringi basmalah.

Karena ini acara besar pondok, jadi peresmiannya langsung dibuka oleh pimpinan Pondok Pesantren Baitul Hidyaah, Ustadz Iwan Sofyan Andi, S.E, M.S.I. Dengan mengenakan jersey bola “Manchester United” yang berwarna putih sama seperti panitia yang melambangkan kesucian hati antara wasit dan peserta Panyandaan Olympiad

Tak lupa sebagai acara khas pndok, tabloid olah raga atau sering disebud Tablo dan martial art turut menyumbangkan penampilannya.

“Semangatkan nafas sportifitas, lahirkan muslim berkualitas”, itulah motto Panyandaan Olympiad tahun ini, memang terlihat sederhana dan simple tapi motto yang dibuat oleh para panitia dan asatidz memiliki makna tersendiri.

“Jadi dengan adanya Panyandaan Olympiad, santri bisa bertanding secara sportif yang akan melahirkan muslim yang berkualitas dalam bidang olah raga”, ujar Rahmat Fizran selaku ketua panitia.

Tapi, di sini bukan hanya ditekankan untuk pandai dan sprotif dalam olah raga saja, santri juga dituntut untuk pandai membagi waktu. Karena hampir setiap sore berlomba. Jadi tak ada waktu untuk mencuci baju dll. Lantas bagimana dengan anak-anak yang kurang suka olah raga?!.

Tenang saja, bagi para santri yang kurang suka dengan olah raga di Panyandaan Olympiad bukan hanya olah raga yang dilombakan, ada games yang menggunakan kecerdasan otak, ketelaten tangan, dan masih banyak lagi. Contohnya “detektif cilik”. Jika Anda semua penggemar detektif Conan atau sesuatu yang berhubungan dengan kasus-kasus atau misteri-misteri, ini adalah kesempatan yang bagus . Games ini diusulkan oleh Slamet sebagai ajang mengasah otak bagi para santri yang tidak suka olah raga.

Meski sepintas hanya acara pekan olah raga versi pesantren, Panyandaan Olympiad mendapat respon yang baik, salah satunya dari ustad Iwan sebagai pimpinan pondok beliau mengatakan bahwa kepanitian kelas 5 tahun ini lebih baik dan acara Panyandaan Olympiad lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Dengan jumlah santri sekitar 160, panitia membagi kelompok-kelompok lomba menggunakan nama negara yang mereka inginkan, dengan tujuan agar para santri termotivasi untuk pergi dan belajar di negara tersebut. Tapi ada lasan yang lain, salah satu anggota di kelompok Turki ditanya “Kenapa Anda memilih Turki sebagai nama kelompok Anda?”, dengan bangga ia menjawab “Karena saya ingin menikah dengan orang Turki”. Lucu memang kedengarannya, tapi tidak ada salahnya karena pencapaian dimulai dari keinginan.

Acara yang menelan dana sekitar 2.5 juta ini sudah dinilai sukses dalam pemanfaatan segala potensi santri kita. “Meski dengan dana yang terbatas. Ketika dididik untuk hemat dan memanfaatkan yang ada”. Ujar Ust. Syahroni (26/4)

Jika Indonesia punya Pancasila, pondok pesantren punya “Panca Jiwa”, yaitu: Kesederhanaan, Keikhlasan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan.

Selain pelajaran mengenai kesederhanaan, juga pelajaran dan pendidikan keikhlasan tentunya. Apalagi bagi santri yang ditunjuk sebagai panitia.

Sedangkan ukhuwwah terlukiskan dari semangat kerja sama santri sebagai tim. Lalu kebebasan panitia dalam berkreasi dari awal pembukaan, macam-macam lomba, serta pelaksanaan dilapangan yang tetap dalam lingkup pendidikan.

Dan diharapkan, dari acara ini setiap elemen yang ada di Pondok mendapatkan sebuah pengalaman yang berharga untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas diri, ‘ilman, khuluqon, adaban, wa ibadatan.

Hasbi/Mutawakkil (santri KMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *