Menjadi Ahli Ibadah Sewaktu Muda??

قال الحسن البصري رحمه الله:”من أحسن عبادة الله في شبيبته لقّاه الله الحكمة في سِنّه، وذلك قوله:(ولما بلغ أشده آتيناه حكمًا وعلما وكذلك نجزي المحسنين)”. [عيون الأخبار 2/ 520].

Menjadi ahli ibadah sewaktu muda bukan hal konyol, kolot, terbelakang, kurang gaul dan segudang lebel yang sering kali disematkan orang-orang yang tidak memiliki cara pandang modern yang dalam kamus bahasa Indonesia berarti :”Sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dng tuntutan zaman”.Seorang muslim adalah sosok manusia modern karena salah satu prasarat keabsahannya sebagai muslim ialah beriman terhadap segala hal ghaib yang didalamnya mencakup masa/zaman/fase kehidupan pasca kematian”. pola dan paradigma berfikir yang mampu menembus batas ruang dan waktu dan tidak dikerangkeng dengan cara berfikir pragmatis,materialistis, dan duniawi itulah hakikat kemodernan seorang muslim .

Modern bagi kita (muslim) adalah beraqidah,berfikir dan beraktifitas berdasarkan pertimbangan dunia dan akhirat. Maka pemuda yang mampu meningkatkan kapasitas personalnya dengan memposisikan dirinya dimaqom ‘Ubudiyah’ yang berada diatas rata-rata kebiasaan pemuda pada umumnya , maka -jika boleh dengan jujur saya katakan-sesungguhnya dia adalah orang yang sedang memproses dan memperbaiki seluruh aspek kehidupan masa depannya.dari hal yang paling kecil hingga hal yang paling mendasar ,tanpa terkecuali!!Jika dalam ayat diatas (Al-Qashash:14) Allah telah memberikan Musa hikmah dan ilmu atas kebaikan yang ia tanam dimasa lalunya, maka jika kita menggunakan logika atas landasan iman, maka pertanyaannya berikutnya akan berlanjut: ” Karunia manalagi yang lebih tinggi diatas karunia Hikmah dan Ilmu? Dunia dan segala perangkat pemikatnya tentu tidak bisa dibandingkan dengan keduanya.

Dan jika memang hingga memasuki usia senja seorang ‘abid’ (hamba ahli ibadah) tidak diberi kesempatan bergelimang harta dunia sekalipun……maka pasti Allah akan memberi sesuatu yang lebih berharga dari itu, dimana Allah pasti akan memberikan dan menjadikan dirinya manusia yang ‘tuntas’ dalam mempola dan mamahami hakikat dunia dan segala ‘tetek bengek’nya;dan itulah HIKMAH.!Semoga ragam keajaiban senantiasa menyertai siapapun yang diwaktu malam matanya basah mencucurkan airmatanya karena rindu akan Tuhannya, dan disiang hari dia menjadi pelaku ikhtiar sempurna sebagai tugas kemanusiaan yang selalu ia harus penuhi selama dia hidup……………اللهم ارزقنا الإخلاص والثبات !!!

Ust. Ali Ridwan Anshory, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *