Mengukur Ketegasan dan Kebijakan

Al-Qur’an telah memaparkan kisah generasi terdahulu dan kehidupannya dengan lengkap. Bahkan dalam paparan Al-Qur’an tentang kisah para nabi dan rasul, -yang terjaga dengan bimbingan wahyu- Al-Qur’an memaparkannya dengan sempurna. Didalamnya mencakup sisi kekuatan dan kelemahan masing-masing dari mereka. Hal itu di maksudkan agar siapapun yang mentadaburinya dapat mengambil pelajaran (ibroh) yang banyak. Sejarah akan terus berjalan untuk memaparkan  perjalanan dari sosok makhluk bernama manusia yang terbentuk dari daging dan darah, bukan sejarah malaikat yang secara alami, (Jibilliy) mereka diciptakan untuk tunduk dan patuh tanpa disertai keingkaran dan permusuhan.

Renungkan firman Allah dalam surat Thaha 121, ketika Allah menjelaskan tentang sepenggal kisah Adam:

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada)di surge, dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia (mengikuti apa yang dibisikkan syaithan)

Tentang Nuh Allah berfirman mengabadikan ungkapan Nuh AS dalam surat Hud:47:

Nuh berkata:’Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikatnya). Dan sekiranya, Engkau tidak mengampuniku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk oang-orang yang merugi.

Tentang Dawud Allah berfirman dalam surat Shaad: 24:

…..Dan Daud mengetahui apa yang bahwa Kami mengujinya; maka ia beminta ampun kepada tuhannya lalu menyungkur sujud bertaubat

Dalam surat Shaad ayat 34 Allah berfirman tentang Sulaiman:

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman  dan Kami jadikan dia tergeletak diatas kursinya sebagai tubuh yang lemah karena sakit, kemudian ia bertubat

Tentang Yusuf Allah berfirman dalam surat Yusuf:24 :

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan itu dengan Yusuf, dan Yusuf pun mermaksud melakukan pula dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian . Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terplih

Dan masih banyak lagi ayat yang semisal dengan itu. Inilah manhaj Al-Qur’an dalam menjelaskan satu penggalan kisah dari perjalanan nabi-dan para rasul utusanNya..

Kesimpulannya, bahwa mengkaji sejarah masa lalu, hendaklah senantiasa menjaga dan mengedepankan gambaran yang utuh, dengan segala sisi terang dan gelapnya, manis dan pahitnya. Tidak ada sejarah yang lepas dari kesalahan, kekurangan dan kealfaan. Apapun dan bagaimanapun kelamnya satu sisi catatan sejarah, maka akan ada pelajaran yang bisa di kenang dan di petik.

Renungkan kisah dari seorang sahabat bernama Ammar bin Yasir Rodhiallohu anhu sebelum pertempuran Jamal terjadi.

Dari Abdullah bin Ziyad, al-Asadiy Rodhiallohu anhu, ia berkata: Saat Thalhah,Zubair dan A’isyah pergi menuju Bashrah untuk bertemu dengan pasukan Ali bin Abi Thalib, maka Ali mengutus Ammar dan Hasan putra beliau ,untuk  menuju Kufah guna menyerukan kesiapan penduduknya guna melawan serangan pasukan Aisyah. Sesampainya di Kufah, Ammar langsung naik keatas mimbar, dalam posisi lebih tinggi dari pada Hasan, Maka kami,(kata Abdullah) berkumpul mendatanginya. Saat itu, aku mendengar Ammar mengatakan: “Sesungguhnya ‘Aisyah telah keluar dengan pasukannya menuju Basharah, Demi Allah Yang Maha Tinggi, Dia (Aisyah) adalah seorang istri nabi kalian didunia dan diakhirat. Tetapi saat ini,Allah hendak menguji kalian semua, apakah kepada Ali Bin Abi Thalib kalian patuh, atau kepada Aisyah”. (HR Bukhari).

Dalam riwayat lain dikatakan : “Ammar berkata; ‘Sesungguhnya aku tahu bahwa dia (‘Aisyah ) adalah istri nabi didunia dan diakhirat, tetapi kini Allah hendak menguji kalian, manakah diantara keduanya yang seharusnya kalian ikuti; dia (Ali Bin Abi Thalib) ataukah dia (“Aisyah)”. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Dalam Fathul Baari Ibnu Hajar menyebutkan, bahwa Ammar berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin mengutus kalian untuk bersiap keluar untuk berperang. Dan sesungguhnya ibu kita semua, (‘Aisyah) tengah dalam perjalanan menuju Bashrah…)”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam komentarnya: “Yang dimaksud oleh Ammar dengan perkataannya itu adalah, bahwa kebenaran dalam peristiwa  itu berada dipihak Ali bin Abi Thalib, tetapi bersamaan dengan itu, ‘Aisyah tidak keluar dari keislamannya, dan ‘Aisyah tetap sebagai orang yang akan menjadi ahli surga. Ungkapan Ammar dinilai sebagai sikap yang adil, dan sebagai bentuk kehati-hatiannya dalam menegaskan kebenaran ditengah-tengah kondisi sesulit itu. (Fathul Baari : 13/85).

Satu hal yang patut diangkat kepermukaan dalam kisah itu adalah, bahwa dalam kondisi yang sesulit itu, Ammar telah mampu menegaskan satu statement yang sangat tegas, namun tetap mampu membingkainya dalam nuansa yang penuh kebijakan. Sikap itu tidak bisa keluar kecuali dari sosok pribadi yang memahami betul secara jernih dan proporsional, wujud keseimbangan antara dua hal penting, “Posisi personal seseorang’ dan “ kemurnian konsep, manhaj dan prinsip kebenaran” . Bagaimana ia menjelaskan terlebih dahulu keutamaan ‘Aisyah, dan menegaskan kedudukannya serta menganjurkan untuk tetap menghormatinya. Tetapi pada saat yang sama, ia mengajak penduduk Kufah untuk melakukan perlawanan kepadanya. Hal ini sebagai bentuk kejelasan sikap, dan keyakinannya atas kebenaran yang seharusnya dia perjuangan. Bukan tanpa resiko. Berat memang, dan akan banyak melahirkan konsekuensi.

Tapi begitulah Al-Qur’an mengajarkan kepada kita. Bahwa ujian yang datang menghampiri kita, terkadang menuntut kita untuk berada pada posisi sulit. Namun sekali lagi, pelajaran penting yang patut dicamkan baik-baik adalah; “ Bahwa Allah menuntun kita  menjadi sosok manusia muslim yang jeli dan memiliki kedalaman rasa, yang tertuang dalam ketegasan. Dimana ia mampu mengkolaborasikan antara “posisi dan kedudukan individu” dan “ kemurnian konsep serta prinsip kebenaran”. Kawinkan keduanya secara sinergis, gandengkan keduanya dalam ucap dan sikap yang adil dalam mengambil setiap keputusan, posisikan prinsip kebenaran -sekalipun pahit- diatas penghormatan kita pada siapapun diantara makhluk Tuhan -terlebih kepada berhala fanatisme kesukuan, kelompok dst-. Berat tapi terhormat, pahit, tapi menyegarkan dan menenangkan!! Itulah satu hukum tarik menarik (sunnah at-tadaafu’) yang akan senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Antara kebenaran dan kebatilan, idealisme dan realitas, harapan dan kemampuan, bahkan dalam kondisi ‘paceklik’ nurani kita dihadapkan pada 2 pertarungan besar, antara keterbatasan dan kebutuhan!  Semoga bermanfaat! Wallahu Alam.

Panyandaan, 1 Robi’ul Awwal 1433 H.

Ust. Ali Ridwan Anshory, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *