Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan – Khutbah Jum’at

Bulan Ramadhan itu adalah bulannya kaum Muslimin. Di dalamnya terdapat banyak keutamaan. Terutama di sepaluh malam terakhir bulan Ramadhan karena di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yakni, malam Lailaul Qadar.

ليلة القدر خير من ألف شهر (القدر ٣)

Rasulullah SAW masih menggabungkan antara shalat dan tidur pada dua puluh malam pertama. Tapi, pada sepuluh malam terakhir, beliau bersiap siaga dan menjauh dari tempat tidurnya. Bahkan, beliau mengetuk pintu untuk menemui Fatimah dan Ali sembari berkata “tidakkah kalian bangun dan shalat?”. Lalu beliau membacakan:

(وأمر اهلك بالصلاة واصطبر عليها ﻻ نسالك رزقا نحن نرزقك و العاقبة للتقوى)

“Dan perintahkan kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki padamu. Kamilah yang memberimu rizki. Dan akibat (yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa)(thaha:132).

Lalu Rasulullah SAW membangunkan istri-istrinya sembari bersabda”Bangunlah penghuni-penghuni kamar. Karena, banyak orang yang berpakaian di dunia tapi telanjang pada hari Kiamat”

Hadist tadi menunjukan betapa pentingnya dan mulianya sepuluh malam terakhir. Tapi, ada beberapa kaum muslimin yang mengacuhkannya dan berkata”Shalat Lail itu hukumnya sunnah hanya sebagai pelengkap”. Tapi, siapa yang bisa memastikan bahwa shalat wajibnya diterima?.

Diriwayatkan dari Abu Dawud dan lainnya Allah SWT berfirman:”lihatlah oleh kalian shalat-shalat hambaku. Apakah ia menyempurnakannya atau menguranginya. Jika shalatnya sempurna akan kutulis sempurna”. Namun jika dalam shalatnya ada kekurangan (Allah) berfirman:”Periksalah hamba-hambaku, jika ia memiliki shalat sunnah,penuhilah kekurangan shalat wajibnya kemudian amal-amal yang lain juga disamakan”.

Lailatul qadar adalah salah satu dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Menurut pendapat yang Rajih, Allah merahasiakan Lailatul Qadar agar hambanya mengisinya dengan shalat, dzikir, dan amalan sunnah lainnya. Lailatul Qadar juga memiliki tanda. Antara lain, matahari pada pagi harinya cerah dan tidak menyilaukan. Rasulullah SAW bersabda:”Dan tanda Lailatul Qadar adalah matahari terbit pada pagi harinya dengan cerah dan tidak menyilaukan”.

Tapi, sangat disayangkan. Mayoritas kaum muslim hanya semangat di awal Ramadhan saja. Namun, keika datang waktu yang seharusnya ia bersungguh-sungguh ia meninggalkan shalat malam dan menghabiskan malamnya dengan perkara sia-sia. Bahkan, ia berpaling dari dzat yang maha pemurah dan pemberi karunia.

Maka kita harus mawajibkan diri dengan memperbanyak dzikir dan ibadah di sepuluh malam terakhir. Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,”jika aku mendapati malam Lailatul Qadar apa yang harus kuucapkan?”. Beliau bersabda:”Katakanlah, ya Allah sesungguhnya engkau dzat yang memberi maaf dan suka memaafkan. Maka maafkanlah aku”. Semoga kita bisa beristiqomah dalam menjalankan ibadah dan bisa mendapatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Disadur dari buku “Mimbar Hidayah” dengan modifikasi.

[Adil Hilmi Mumpuni – santri KMI]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *