Jaga Keutuhan NKRI, Santri Jawa Barat Lawan Hoax dengan Produksi Konten

Pondok Pesantren Baitul Hidayah di Bandung merupakan salah satu pesantren dengan pemandangan terindah. “kami menyebutnya Pesantren di atas awan, karena ketika pagi dan saat-saat tertentu awan mengelilingi pesantren ini. Pondok Pesantren ini didirikan di atas tanah wakaf dengan ketinggian 950 meter di atas permukaan laut, sehingga dari sini kita dapat melihat keindahan kota Bandung,” ujar Kiai Iwan Shofyan Andi, SE., M.Si.

Hal itu disampaikannya saat membuka lokakarya literasi media dengan tema “Optimalisasi kreatifitas santri di media sosial dalam upaya memperkokoh dan memajukan NKRI” di Aula Pondok Pesantren Baitul Hidayah, Bukit Panyandaan, Mandala Mekar, Kec. Cimenyan, Cikadut, Cimenyan, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu, 21 Februari 2018. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Ponpes Baitul Hidayah dengan Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi). Lokakarya ini diikuti seluruh santri kelas 4, 5 dan 6.

Menurut Kiai Iwan Shofyan, Ponpes Baitul Hidayah sudah dua kali mengadakan literasi media untuk para santri dan kegiatan kali ini yang terbesar. “Rencananya kami juga akan memberikan pembekalan literasi media untuk para santri yang akan lulus. Kami ingin mereka cerdas dalam bermedia sosial dan mampu membuat konten-konten yang memperkokoh serta memajukan NKRI,” ujar Kiai muda ini.

Hadir sebagai narasumber dalam lokarkarya ini: Dedeh Fardiah (Ketua KPID Jawa Barat), Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten), Rizqi Ghassani (Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Barat Bidang Komunikasi dan Hubungan Masyarakat), M. Latif Faidah (Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Kota Bandung). Lokakarya ini dimoderatori oleh Ustaz Erik Setiawan (Sekretaris Ponpes Baitul Hidayah).

Pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria memaparkan bahwa potensi santri menjadi pembuat konten hebat sangat besar, karena mereka rata-rata mampu berbicara dalam empat bahasa (Arab, Inggris, Indonesia, dan bahasa daerah). Buku-buku pelajaran santripun berbahasa Arab dan Inggris, kemudian para kiai dan ustaz juga mengajar bahasa Arab dan Inggris.

“Pesantren sudah ada sejak tahun 1475, Kiai dan santri terlibat aktif melawan penjajah dan memerdekakan Indonesia. Komitmen santri untuk Pancasila dan NKRI tidak perlu diragukan lagi karena itu ciri utama santri, bersama kita jaga agar ciri utama tidak pudar. Di era digital santri juga memainkan peran yang sangat strategis. Sudah banyak konten-konten yang diproduksi oleh santri. Kegiatan ini tidak mengajari santri dari awal, karena santri umumnya sudah tahu mana yang boleh dan dilarang dilakukan di media sosial. Contoh, di Pesantren menghina orang, berkelahi bisa menyebab pelakunya diusir dari Pesantren. Terkait literasi digital kita tinggal bilang kepada santri bahwa apa yang tidak boleh dilakukan di pesantren jangan di lakukan di media sosial, mereka sudah paham,” ujar Hariqo.

Hariqo menambahkan, semakin lama orang akan semakin sadar bahwa literasi media itu adalah kebutuhan, literasi media itu seperti helm dan sarung tangan saat kita naik motor, literasi media bermanfaat untuk keamanan setiap orang, keluarga, bangsa dan negara. Santri harus menjadi pembuat konten, bukan sekedar penyebar konten karya orang lain.

Sementara itu, Dedeh Fardiah (Ketua KPID Jawa Barat) dalam paparannya menjelaskan bahwa teknologi digital sesungguhnya untuk meningkatkan kreatifitas, meningkatkan pelayakan publik, pembelajaran jarak jauh dan mendorong pertumbuhan usaha. Yang perlu kita evaluasi adalah sejauh mana pencapaian kita terhadap tujuan mulia dari teknologi digital tersebut.

Rizqi Ghassani (Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Barat Bidang Komunikasi dan Hubungan Masyarakat) dalam presentasinya mengatakan, ciri utama dari media sosial adalah pesan yang disampaikan tidak hanya untuk satu orang. Karenanya, pengguna media sosial juga harus mempertimbangkan orang banyak dalam melakukan berbagai aktifitas di media sosial. Rizqi juga mengingatkan bahwa malaikat mencatat semua perbuatan kita dan semua perbuatan buruk ada balasannya.

“Kepekaan ini harus dibangun. Sebab jika tidak, pengguna media sosial bisa merasa bebas memaki, menghina, marah-marah, menyebar hoax di media sosial,” jelas Rizqi.

M. Latif Faidah (Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Kota Bandung) melihat banyak sekali hal unik di Pesantren yang bisa disampaikan ke publik. Hanya saja, kreatifitas dalam memproduksi konten harus ditingkatkan.

“Santri bisa membuat infografis tentang istilah-istilah unik di Pesantren, bisa membuat kutipan-kutipan dari para Kiai yang menunjukan kepada publik bahwa Islam itu rahmat bagi semua. Santri juga bisa memproduksi video dengan bahasa Arab dan Inggris. Saya setuju dengan Komunikonten, yang perlu tingkatkan adalah kreatifitas dalam memproduksi konten. Relawan TIK siap membantu setiap Pesantren yang ingin santrinya lebih kreatif di media sosial,” ujar M. Latif Faidah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *